Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

About

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Phasellus eu mi orci, et pulvinar risus. Maecenas vitae magna eu arcu rutrum venenatis.

Sed aliquam, sapien vitae fringilla dapibus, purus lacus vestibulum magna

Jumat, 22 April 2011

Ujian Nasional atau disingkat dengan UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Ujian Nasional (UN) diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ujian Nasional (UN) digelar untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil UN digunakan sebagai:

  1. Pemetaan mutu program dan/atau satuan pendidikan;
  2. Dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya;
  3. Penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan; dan
  4. Dasar pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.

Peserta UN merupakan siswa yang telah berada pada tahun terakhir di SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK. Peserta juga memiliki laporan lengkap penilaian hasil belajar pada SMP, MTs, SMPLB, SMA, MA, SMALB, atau SMK mulai semester I tahun pertama hingga semester I tahun terakhir.

Mereka yang memiliki ijazah atau surat keterangan lain yang setara atau berpenghargaan sama dengan ijazah dari satuan pendidikan yang setingkat lebih rendah, atau memiliki bukti kenaikan kelas dari kelas III ke kelas IV untuk siswa Kulliyatul-Mu'alimin Al Islamiyah (KMI)/Tarbiyatul-Mu'alimin Al Islamiyah (TMI) yang pindah ke SMA/MA atau SMK.

Standar Kelulusan Ujian Nasional

  1. Memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Khusus untuk SMK, nilai praktik kejuruan minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung rata-rata UN; dan
  2. Pemerintah Kabupaten/Kota dan atau satuan pendidikan dapat menetapkan standar kelulusan UN lebih tinggi dari criteria tersebut sebelum pelaksanaan UN.

Sabtu, 16 April 2011

Tidak terasa lagi UN 2011 akan digelar. Ingat jadwalnya catat baik-baik : UN untuk SMA/MK, SMALB, dan SMK: 18-21 April 2011, UN untuk SMP/MTs dan SMPLB: 25-28 April 2011, dan UN untuk SD/MI dan SDLB: 10-12 Mei 2011. Tentunya Anda semua telah berusaha belajar dengan sebaik-baiknya, tetapi kadang kita agak kurang PD. Ini dia knowledge agar Anda PD dengan belajar Anda : Jangan terlalu khawatir asal belajar Anda selalu mengacu pada kisi-kisi UN 2011 itu dipastikan belajar kamu bakal efisien. Hal ini dikarenakan soal-soal yang keluar dalam UN 2011 tidak akan jauh dari kisi-kisi yang ada dalam lampiran Permendiknas. Ok, berikut kiat dan tips lengkap agar kamu makin PD dan agar kamu bisa sukses Ujian Nasional 2011.

Kiat Umum UN 2011

Tidurlah yang cukup supaya kondisi Anda prima dan tidak mengantuk saat ujian berlangsung.

Siapkan alat tulis menulis yang Anda siapkan pada saat ujian, kartus tes, papan pengalas, dan jam tangan (jika ada) sebelum tidur.

Bangun pagi-pagi. Jangan lupa sarapan dan meminta restu kedua orang tua sebelum berangkat ke sekolah.

Usahakan tiba di lokasi ujian paling lambat 30 menit sebelum ujian dimulai.

Jangan lupa membaca doa sebelum memulai menjawab soal.

Relaks, jangan merasa terbebani atau tegang pada saat menjawab soal-soal ujian. Tanamkan optimisme dan kepercayaan diri bahwa Anda bisa menjawab dengan benar. Ingat ketegangan dapat membuyarkan konsentrasi Anda!

Jaga Lembar Jawaban Ujian Anda agar tetap bersih, tidak terlipat, jangan sama sekali di corat-coret.

Pesan terakhir : Berusahalah sukses UN 2011 dengan kejujuran penuh, jangan mengaharapkan bantuan orang lain dalam mengerjakan soal-soal UN 2011 dan kita harus percaya diri bahwa persiapan yang kita lakukan adalah optimal :)


Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengimbau kepada seluruh orang tua siswa atau peserta Ujian Nasional (Unas) untuk tidak mudah tergoda dengan adanya tawaran bocoran soal Unas.

“Masyarakat khususnya orang tua harus yakin bahwa jangan sampai terjebak pada spekulasi-spekulasi yang menyatakan soal ujian itu bocor. Bahkan, saya juga menerima sms yang berbunyi “Pak ini ada tawaran soal. Kalau jawaban benar 25 persen, harganya sekian juta, kalau benar 50 persen sekian juta”,” ungkap Nuh di sela kunjungan ke percetakan soal Unas di Percetakan Balai Pustaka, Jakarta, Sabtu (9/4).

Jika seandainya nanti di masyarakat atau di lapangan tetap ada dugaan soal bocor, lanjut Nuh, maka bisa diadukan ke pihak Kemdiknas. Pasalnya, mantan Menkominfo ini mengungkapkan, dalam pencetakan soal Unas kali ini pemerintah beserta dengan pengawas dan percetakan telah menaruh sebuah kode rahasia atau kode khusus yang melekat di setiap soal Unas.

“Kalau ada yang menyebarkan laporkan kepada kami. Nanti tinggal melihat kode khusus yang tertera di dalam soal. Dan kode itu adalah kode rahasia yang hanya diketahui oleh Kemdiknas, Pengawas dan Percetakan. Sehingga apakah soal itu berasal dari orang lain dengan bisnis sesaat dan disebarkan seakan-akan bahwa itu bocoran soal, itu akan kami ketahui dengan mudah apakah itu soal Unas asli atau palsu,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Nuh juga ingin mengajak seluruh masyarakat untuk berhenti berburu soal Unas. Menurutnya, orang tua sebaiknya memberikan semangat kepada anak-anaknya untuk lebih giat belajar. “Sudahlah, daripada berburu bocoran soal yang tidak jelas juntrungannya, lebih baik energinya dipakai untuk belajar. Sehingga lebih khusyuk dan lebih konsen,” imbuhnya.

Nuh yang juga mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu turut menambahkan, kunjungannya ke percetakan soal Unas tersebut untuk memastikan kesiapan menjelang pelaksanaan UN SMA yang akan berlangsung pada 18-21 April 2011. Selain itu, ia juga memerintahkan pejabat Eselon 1 dan Eselon 2 untuk melakukan sidak di percetakan yang terletak di beberapa daerah.

“Minggu lalu, saya juga sidak di Surabaya. Alhamdulillah, prosedurnya sudah memenuhi syarat yang kita harapkan. Semoga nanti semuanya pelaksanaannya aman dan saya sampaikan, setiap titik yang punya potensi kebocoran harus kita kawal betul. Salah satunya, di titik percetakan,” pungkasnya.

Kamis, 03 Maret 2011

Menghadapi Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2010/2011 SMP Negeri 2 Jatilawang mulai melaksanakan beberapa kegiatan. Salah satunya adalah bekerja sama dengan Komite Sekolah telah mengadakan sosialisasi kriteria kelulusan peserta didik kepada orang tua dan wali siswa kelas IX. Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Untuk kelas IX A dan B dilaksanakan hari Selasa jam 09.00 - 11.00 wib. Kelas IX C dan D dilaksanakan hari Rabu pada jam yang sama dan klas IX E dan F pada hari Kamis.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Ibu Sri Sumirat dengan melibatkan Wakil Kepala Sekolah dan Kesiswaan. Untuk pemaparan kriteria kelulusan disampaikn langsung oleh admin (saya sendiri)..
semoga kegiatan ini dapat membawa manfaat dan pemahama bagi semua...
Berikut petikan Permen No. 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik...

Kamis, 10 Juni 2010

Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian. Selain itu, ada indikasi terjadinya penurunan standar dan mutu pendidikan di sekolah-sekolah yang bersangkutan. Adapun 18 sekolah RSBI yang dicabut izinnya tersebut terdiri dari delapan SMP, delapan SMK dan dua SMA.

RSBIBerdasarkan catatan Kemendiknas, jumlah sekolah RSBI di Indonesia mencapai 1.110 sekolah (997 sekolah negeri dan 113 sekolah swasta). Dari jumlah tersebut, SD RSBI tercatat sebanyak 195 sekolah, SMP RSBI sebanyak 299 sekolah, SMA RSBI sebanyak 321 sekolah, dan SMK RSBI sebanyak 295 sekolah. Seperti diketahui pembentukan sekolah berstandar internasional (SBI) merupakan amanat Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang mengatur agar setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki minimal satu sekolah bertaraf internasional untuk setiap jenjang pendidikan.

RSBIBerdasarkan amatan awam saya, bejibunnya jumlah sekolah berstatus RSBI cenderung lebih disebabkan oleh sikap latah untuk menaikkan gengsi dan marwah sekolah semata. Tidak sedikit pengambil kebijakan di tingkat internal sekolah yang kurang mempertimbangkan adanya kesiapan sumber daya manusia, fasilitas, sarana dan prasarana, atau kultur sekolah yang bersangkutan. Ibarat orang main bola, yang penting masuk lapangan dulu. Soal pemainnya siap atau tidak, lapangannya mendukung atau tidak, itu urusan belakangan. Mereka baru sadar setelah wasit meniup peluit bahwa ternyata banyak pemain yang tidak paham aturan permainan sepak bola.

Yang tak kalah menyedihkan, sekolah RSBI cenderung elitis dan ekslusif. Mereka mendapatkan perlakuan khusus dengan menerima jumlah subsidi block-grant yang tidak sedikit jumlahnya (sekitar Rp 300 juta-Rp 600 juta per tahun) sekaligus diberikan kebebasan untuk memungut biaya sekolah kepada orang tua/wali murid. Tak heran jika muncul kesan, sekolah RSBI hanya diperuntukkan bagi mereka yang berduwit. Perlakuan khusus dan istimewa tersebut bisa jadi tak banyak menimbulkan masalah jika dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan dan layanan yang memuaskan kepada para “pelanggan”. Namun, kenyataan menunjukkan situasi yang berbeda. Mutu pendidikan dinilai hanya “jalan di tempat”, mutu dan proses pembelajarannya berlangsung tanpa perubahan.

Secara eskternal, sekolah RSBI juga hanya menciptakan kastanisasi pendidikan yang memuncak pada munculnya sikap elitisme, khususnya di kalangan siswa didik. Mereka yang masuk ke sekolah RSBI cenderung memosisikan dirinya “serba lebih” di mata teman-teman sebayanya. Terjadi kesenjangan sosial yang begitu lebar antara siswa yang berada di sekolah RSBI dan sekolah reguler. Secara sosial, situasi semacam ini jelas sangat tidak menguntungkan dunia pendidikan kita yang harus melahirkan anak-anak masa depan yang memiliki kecerdasan, baik secara intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.

Secara imajiner, saya hanya bisa membayangkan, anak-anak yang bersekolah di RSBI berbiaya tinggi itu “dikarantina” di ruang kelas dan mendapatkan doktrin “globalisasi” lewat bahasa pengantar berlabel internasional. Sementara itu, nilai-nilai kearifan lokal yang langsung bersentuhan dengan akhlak dan keluhuran budi jarang lagi disentuh. Hmm …. semoga saja bayangan-bayangan semu yang mengapung dalam ruang imajiner saya itu tidak benar!

Evaluasi yang dilakukan oleh Kemendiknas terhadap sekolah-sekolah berstatus RSBI memang perlu dan urgen dilakukan untuk kepentingan pemetaan mutu pendidikan secara nasional. Namun, yang tidak kalah penting adalah evaluasi kebijakan secara filosofis dan mendasar untuk melihat secara jernih keberadaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas itu. Kalau memang hanya menciptakan kastanisasi pendidikan dan sikap elitisme, lantas apa untungnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan kita? Bukankah pemerintah sendiri saat ini tengah mendesain sekolah murah yang diharapkan mampu mencerdaskan anak-anak bangsa dari semua kalangan? **

Minggu, 23 Mei 2010

Sama seperti tahun yang lalu pengumuman kelulusan yang dilaksanakan pada 7 Mei 2010 adalah sebuah kabar penantian yang diharapkan banyak orang. Termasuk saya dari hari kamis siang sudah berpikir berapakah angka persentase kelulusan tahun ini.
Undangan pengambilan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas dimulai dari jam 20.00 namun sudah banyak yang hadir lepas maghrib. Saya sendiri sampai di Dinas pendidikan pukul 20.05 sudah didahului oleh pak Margono... (hehe he... jadi malu....)
Setelah penjelasan bla... bla... dari perwakilan dinas pendidikan kabupaten Banyumas tiba saat yang mendebarkan bagi kami untuk menerima panggilan penerimaan dakol UN. (padahal kita ngga ikut UN lho tapi ikut deg degan.. gimana yang ikut ya....)
Yang melihat pertama kali tentu Bapak Kepala Sekolah ... ketika saya tanya "Berapa pak yang tidak lulus?" dengan raut muka yang masam (saya melihatnya kayak gitu ... apa lampunya yang gelap ya.....) lantas Bapak menjawab... "Empat belas pak..."
Saya mengerutkan dahi.... "Empat belas.....???????" "Ya Empat belas anak 6,27%" .
Dalam hati Saya wah turun ni kinerja sekolah... Tapi kemudian saya nanya beberapa sekolah yang saya nilai di atas sekolah saya... ternyata saya menemui sebuah kenyataan Sekolah saya masih lebih baik... tidak perlu saya ceritakan sekolah mana saja itu tapi memang secara umum hasil UN menurun... tetapi naik secara kualitas... Termasuk SMP Negeri 2 Jatilaang yang pada tahun lalu masuk peringkat 54 tahun ini menjadi peringkat 22 se-kabupaten Banyumas. Sebuah prestasi yang membanggakan....
TERNYATA MAHAL HARGA SEBUAH KEJUJURAN dan SMP NEGERI 2 JATILAWANG memetik hasil kejujuran sekarang... begitu manis... Alhamdulillah...

Terus Berjuang Anak-anaku.....
Terus Berjuang Teman-temanku....
Terus Berjaya SMP Negeri 2 Jatilawang......

TAG